http://fikriansyah73.wordpress.com/2011/09/27/kisi-kisi-ukdm-pend-matem/
Selasa, 27 September 2011
Pengertian Metodologi Penelitian, berfikir, bersikap ilmiah dan urgensi Metodologi Penelitian terhadap perkembangan IPTEK
Pengertian Metodologi Penelitian, berfikir, dan bersikap Ilmiah serta urgensi Metodologi Penelitian dalam pengembangan IPTEK
Metodologi Penelitian merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang peneliti. Tanpa pengetahuannya akan Metodologi Penelitian tidak mungkin seseorang akan mampu melaksanakan penelitian secara Ilmiah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Metode Penelitian merupakan suatu cara mencari kebenaran & asas-asas, gejala alam, masyarakat atau kemanusiaan berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan.
Istilah Metodologi Penelitian diambil dari bahasa inggris, yakni methodolgical research yang secara harfiah diartikan sebagai berikut :
• Methodological, yang terdiri dari 2 suku kata, yaitu :
Method, yakni kumpulan dari suatu cara-cara tertentu
Logical, yakni cara berfikir lurus/jernih/sesuai dengan akal sehat
• Research, yang terdiri dari 2 suku kata juga, yaitu :
Re, kembali atau mengulang
Search, mencari atau menemukan
Jadi, Methodological research dapat diartikan secara harfiah sebagai kumpulan dari metode-metode/cara-cara tertentu yang dapat diterima oleh akal sehat untuk menemukan atau mencari sesuatu kembali.
Penelitian ilmiah merupakan suatu proses yang dilakukan secara sistematis dan objektif yang melibatkan unsur penalaran dan observasi untuk menemukan, memverifikasi, dan memperkuat teori serta untuk memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan.
Secara umum Metode Penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Terdapat 4 poinn yang dapat di ambil dari pengertian tersebut, yaitu : cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan.
1. Cara ilmiah, berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis.
2. Data, yaitu hasil dari penelitian tersebut. Data yang diperoleh adalah data empiris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu, seperti VALID.
3. Tujuan, secara umum tujuan penelitian ini ada 3 macam,
-. Penemuan
-. Pembuktian
-. Pengembangan
4. Kegunaan, secara umum kegunaan dari suatu penelitian juga ada 3 macam,
-. Memahami
-. Memecahkan
-. Mengantisipasi masalah
Berfikir, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berfikira adlah menggunakan akal budi untuk meempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Banyak ahli berpendapat mengenai definisi berfikir. Kaum Asosiasionis berpendapat berfikir adalah suatu proses Asosiasi (mencocokkan), sedangkan kaum fungsionalis menyatakan bahwa berfikir merupakan suatu proses penguatan hubungan antara stimulus dan respons. Ada juga yang menyatakan bahwa berfikir merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara 2 objek atau lebih.
Pengertian secara umum adalah penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan didalam long term memory.
jadi dapat ditarik 3 kesimpulan, yaitu :
1. Berfikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku.
2. Berfikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif.
3. Berfikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah/diarahkan pada solusi.
Secara umum berfikir dapat diartikan “berkembangnya ide dan konsep didalam diri seseorang”. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan didalam diri seseorang yang berupa pengertian-pengertian.
Sikap ilmiah, sikap ilmiah merupakan suatu sikap yang harus dimiliki oleh seorang peneliti/ilmuwan/akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Karena sikap ilmiah perlu didalam proses penelitian.
Sikap ilmiah yang dimaksud tersebut, antara lain :
-. Sikap ingin tahu, dapat dilihat dari banyak pertanyaan yang timbul. Jika seseorang memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, maka dia akan banyak bertanya.
-. Sikap kritis, dapat dilihat dari kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan bidang kajian yang akan dikajinya, unutk membandingkan kelebihan dan kekurangan antar satu informasi dengan informasi lainnya.
-. Sikap terbuka, sikap ini terlihat pada saat ini dia mau mendengarkan pendapat, kritik, argumen, serta saran dari orang lain.
-. Sikap objektif, yaitu ketika dia menyatakan pendapatnya tanpa diikuti perasaan pribadi.
-. Sikap rela menghargai karya orang lain, dapat dilihat ketika dia menggunakan kutipan orang lain. Dia dengan jelas dan terang-terangan mengatakan kalo dia memang mengutip pendapat orang lain.
-. Sikap berani mempertahankan kebenaran, hal ini dapat dilihat ketika seorang tersebut mempertahankan hasil temuan dilapangan, walau berbeda dengan dalil atau pendapat ahli.
-. Sikap menjangkau kedepan, sikap ini dibuktikan dengan selalu inginnya dia membuktikan hipotesisnya sendiri.
Seperti sudah dijelaskan diatas, Metodologi Penelitian adalah cara ilmiah untuk memperoleh suatu data dengan tujuan tertentu. Tujuannya beragam, antara lain ; penemuan, pembuktian, dan pengembangan.
1. Penemuan, berarti data yang diperoleh dari penelitian itu baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. Misalnya menemukan metode mengajar Matematika yang efektif, efisien, dan menyenangkan ; media pendidikan, sistem evaluasi, dll.
2. Pembuktian, berarti data yang diperoleh tersebut digunakan untuk membuktikan adanya keraguan-raguan terhadap informasi/pengetahuan tertentu. Misalnya membukti keefektifan suatu metode mengajar yang baru, apakah efektif unutk digunakan di Indonesia atau tidak.
3. Pengembangan, berarti tujuan penelitian ini unutk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada. Misalnya mengembangkan metode mengajar yang telah ada menjadi lebih efektif.
Dari beberapa penjabaran mengenai tujuan dari penelitian itu, dapat dilihat bahwa Metodologi Penelitian memiliki tujuan utama untuk mengembangkan IPTEK.
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa metodologi penelitian ini merupakan suatu kegiatan meneliti bagaimana metode mengajar yang baik, yang mana mengajar disini merupakan salah satu cara mengembangkan SDM yang sudah barang tentunya juga akan berimbas kepada perkembengan IPTEK. Dari sini terlihat pentingnya Metodologi Penelitian, karena tujuan Penelitian itu sendiri untuk mengembangkan IPTEK.
Tetapi yang jadi permasalahan, walaupun banyak yang mengadakan penelitian-penelitian atau semacamnya sebut saja mahasiswa. Kenapa Indonesia belum memiliki kualitas SDM yang memadai. Hal ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor, bisa jadi peneliti yang kurang menguasai Metodologi Penelitian secara bagus sehingga hasil penelitiannya tidak dijadikan rujukan oleh lembaga/pemerintahan. Sehingga penelitian itu kurang berguna hanya sebagai syarat suatu kelulusan tanpa memberikan dampak baik terhadap perkembangan iptek.
Kamis, 04 Agustus 2011
Secara bahasa bahwa pengertian tafsir adalah: “menjelaskan atau menerangkan”, keterangan sesuatu atau tafsirah yaitu alat kedokteran yang mengungkapkan penyakit dari seorang pasien, maka tafsir “dapat mengeluarkan makna yang tersimpan dalam kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan pengertian tafsir secara bahasa terdapat kerancuan dari gagasan tafsir itu sendiri, maka tafsir secara istilah adalah menerangkan (maksud) lafaz yang sukar dipahami oleh pendengar dengan uraian yang lebih memperjelas maksudnya, baik dengan mengungkapkan sinonimnya maupun mengungkapkan uraian petunjuk padanya melalui jalan dalalah.
Pada dasarnya, pengertian tafsir berdasarkan bahasa tidak akan lepas dari kandungan makana al-idhah(menjelaskan), al-bayan(menerangkan), al-kasyf(mengungkapkan), al-izhar(menampakkan), dan al-ibanah(menjelaskan). Jadi didalam tafsir itu terdapat mengenai penjelasan, penerangan, pengungkapkan, penampakkan, mengenai ayat-ayat al-qur’an tersebut.
Beberapa ulama mengungkapkan pengertian tafsir ini dalam beragam redaksi, yaitu :
1. Menurut al-kilabi, tafsir adalh menjelaskan al-qur’an, menerangkan maknanya, dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash, isyarat, atau tujuannya.
2. Menurut Syekh Al-Jazairi, tafsir adalah menjelaskan kata yang sukar dipahami oleh pendengar sehingga berusaha mengemukakan sinonimnya atau makna yang mendekatinya, atau dengan jalan mengemukakan salah satu dilalahnya.
3. Menurut Abu Hayan, tafsir merupakan ilmu mengenai cara pengucapan kata-kata al-qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk, kandungan-kandungan hukum, dan makna-makna yang terkandung didalamnya.
4. Menurut Az-Zarkasyi, tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW. Serta menyimpulkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya.
Disini berarti tafsir merupakan suatu cara dalam upaya manusia dalam mengungkap makna dari ayat-ayat yang terdapat didalam al-qur’an. Suatu hasil usaha tanggapan, penalaran, dan ijtihad manusia untuk mengungkap nilai-nilai samawi yang terdapat didalam al-qur’an.
Karena tafsir merupakan suatu tanggapan, penalaran, dan ijtihad manusia, maka tafsir dapat diartikan sebagai “sebuah ilmu yang mempelajari tentang pemahaman Al-Qur’an sesuai dengan KEMAMPUAN MANUSIA”, yang bertujuan untuk memahami makna al-qur’an, hukum-hukumnya, akhlak-akhlaknya, dan petunjuk-petunjuknya yang lain untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ta’wil, menurut bahasa ta’wil artinya adalah berpaling atau kembali, berasal dari perkataan “aul” yang artinya kembali. Menurut istilah ta’wil adalah memalingkan lafaz dari makna yang zhahir kepada makna yang muhtamil , apabila makna yang muhtamil itu tidak bertentangan dengan al-qur’an dan as-sunnah. Ta’wil menurut ulama mutaakhirin adalah memalingkan makna suatu lafal dari yang rajih kepada yang marjuh, karena ada dalil yang menunjukkan perlunya makna itu dipalingkan. Jadi, dapat disimpulkan takwil adalah mengembalikan sesuatu pada maksud yang sebenarnya, yakni menerangkan apa yang dimaksudnya.
Jadi, mentakwilkan Al-qur’an adalah membelokkan atau memalingkan lafaz-lafaz atau kalimat-kalimat yang ada dalam Alquran dari makna lahirnya kemakna lainnya, sehingga dengan cara demikian pengertian yang diperoleh lebih cocok dan sesuai dengan jiwa ajaran Al-quran dan sunnah Rasullulah SAW.
Tarjamah, menurut bahasa ialah : menerangkan dengan bahasa yang lain, atau dapat dikatakan tarjamah adalah pemindahan lafal dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain, atau menjelaskan makna suatu ungkapan yang terdapat dalam suatu bahasa dengan menggunakan bahasa lain.
Menurut istilah, tarjamah itu ada dua pengertian , yaitu :
1. Tarjamah harfiyah, yaitu memindahkan suatu ungkapan dari satu bahasa kebahasa yang lain dimana tidak terdapat perubahan pada makna dan susunan surat-surat atau ayat-ayat tersebut.
2. Tarjamah tafsiriah atau biasa disebut ma’nawiyah, yaitu menjelaskan suatu ungkapan dan maknanya yang terdapat dalam suatu bahasa dengan menggunakan bahasa lain, tanpa menjaga atau memelihara susunan secara tertib bahasa aslinya, dan juga tidak pula mengungkapkan semua makna yang dimaksudkan oleh bahasa aslinya.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat manusia diseluruh dunia diturunkan di jazirah Arab, Oleh sebab itu Al-Qur’an diturunkan kedalam bahasa arab. Karena al-quran merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia, maka al-quran perlu diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Oleh sebab itu, masyarakat yang awam mengenai bahasa al-quran perlu dibantu melalui terjemahan tersebut. Jadi, terjemahan merupakan sarana penyampaian isi kandungan Al-quran kepada umat manusia, baik muslim maupun nomuslim.
Bila penerjemahan al-quran telah dilakukan, maka hasil terjemahannya bukanlah merupakan al-quran lagi, melainkan terjemahan al-quran. Sebabnya ialah i’jaz Al-quran tidak akan terjadi kecuali dengan bahasa aslinya yaitu bahasa arab, karena al-quran itu sendiri mengandung ilmu bahas yang tinggi yang tidak dapat ditandingi dan ditiru oleh manusia karena kemu’jizatannya. Sebagaiman didalam firman Allah dala al-baqarah ayat 23.
Didalam tafsir secara umum terdapat tafsir secara khusus, ta’wil dan tarjamah. Terdapat perbedaan sekaligus persamaan diantaranya. Persamaan diantaranya yaitu, tafsir dan ta’wil adalah sama-sama menjelaskan makna ayat-ayat al-qur’an. Tetapi sebagian ulama (ulama modern) mengatakan bahwa tafsir dan ta’wil itu berbeda. Mereka mengatakan tafsir itu lebih bersifat umum dibanding ta’wil. Karena ta’wil berkenaan dengan ayat-ayat yang khusus, semisal mutasyabihah. Jadi mentakwilkan ayat-ayat al-quran yang mutasyabihah itu termasuk tafsir, tetapi tidak setiap penafsiran ayat tersbut disebut takwil.
Tafsir memberikan penjelasan lebih lanjut tentang ta’wil dan dalam tafsir terdapat dalil-dalil yang dapat menguatkan penafsiran, sedangkan ta’wil hanya menguatkan salah satu makna dari sejumlah kemungkinan makna yang ada. Dalam tafsir, menerangkan makna lafaz melalui pendekatan riwayat dan mengambil makna-makna dari bentuk yang tersirat serta berhubungan dengan ayat-ayat yang biasa saja. Sedangkan ta’wil melalui pendekatan dirayah(kemampuan ilmu) dan mengambil makna-makna dari bentuk yang tersurat serta ta’wil berhubungan dengan makna-makna yang kudus (suci).
Penjelasan diatas menunjukkan, terdapat perbedaan maupun persamaan antar atafsir dan ta’wil. Persamaannya adalah tujuan dari keduanya dilaksanakan, yaitu sama-sama bertujuan untuk mencari makna yang terkandung dalam ayat al-quran. Sedsngksn perbedaannya lebih kepada cara dan penyajiannya saja.
Dalam proses penafsiran yang menjadi penafsir alias subjek adalah manusia dan yang menjadi objeknya tentu ayat-ayat al-quran. Karena tafsir merupakan suatu tanggapan, penalaran, dan ijtihad manusia, maka pastilah terdapat warna dalam penafsiran tersebut. Karena Allah menciptakan manusia TIDAK ADA yang sama. Bahkan lebih dari itu, warna dalam penafsiran tersebut dapat disebabkan juga oleh mahzab yang dianut para mufassirnya.
Terdapatnya corak dalam tafsir, disebabkan perbedaan yang terdapat antara mufassirnya itu sendiri. Tergantung apa yang dominan didalam diri mufassir tersebut. Misal seorang mufassir yang senantiasa berurusan dengan ilmu sains, maka tafsir yang dihasilkannya akan bersifat tafsir corak ilmi(at-tafsir al-ilmi). Dikarenakannya didalam diri mufassir tersebut lebih condong (dominan) terhadap ilmu pengetahuan. Demikian juga mufassir yang lain, sehingga terdapatlah beberapa corak didalam tafsir, antara lain : tafsir corak ilmi (ilmu pengetahuan), tafsir corak sufistik(sufi), tafsir corak fiqh, tafsir corak falsafi filsafat), tafsir corak adabi-Ijtiama’i.
Didalam kita menyikapi warna atau corak yang terdapat ditafsir, sebelumnya kita harus mengukur kemampuan kita terhadap tafsir itu sendiri. Sehingga kita dapat menyesuaikannya. Sama halnya dengan para mufassir yang berbeda dalam menafsirkan al-quran, kita juga pasti berbeda dalam keperluan memahami tafsir tersebut. Seperti yang telah dikaji di atas, manusia TIDAK ADA yang sama. Jadi kita perlu mengetahui apa yang dominan didalam diri kita. Misalnya seseorang yang bergelut dengan ilmu pengetahuan tentu akan lebih nyaman menggunakan tafsir corak ilmi, sedangkan seorang yang memiliki pemikiran tasawuf tentu akan lebih nyaman menggunakan tafsir corak sufistik.
Sebenarnya perbedaan tersebut bukan menjadi pembeda atau pembatas atau bahkan pemecah umat Islam. Allah mengetahui perbedaan ini akan terjadi, karena Allah-lah yang menciptakan manusia. Justru perbedaan tersebut merupakan suatu hal yang patutu kita syukuri karena dengan perbedaan tersebutlah kita dapat menikmati beragam ilmu pengetahuan. Semakin banyak perbedaan justru akan semakin memperkaya wawasan kita.
Dapat kita analogikan seperti kegiatan makan. Tujuan utama kita makan adalah untuk kenyang, tentu kita akan senang jika banyak pilihan makanan yang akan kita makan, tergantung yang mana kita mau atau yang kita butuhkan. Begitu juga dalam penafsiran al-quran, dibalik perbedaan-perbedaan yang menyebabkan terjadinya corak tafsir, terdapat persamaan utama, yaitu corak tafsir bertujuan untuk menyampaikan makna, arti dari ayat-ayat tersebut. Dan yang menjadi perbedaan hanya cara penyampaiannya. Dan tentunya kita dapat menyesuaikan dengan yang kita butuhkan dan juga yang sanggup kita pahami.
Penafsiran al-quran dengan pendekatan ilmiah merupakan salah satu corak tafsir, yaitu tafsir corak ilmi (at-tafsir al-ilmi), khususnya ilmu eksak atau sunatullah. Tafsir ini dibanngun berdasarkan asumsi bahwa al-qur’an mengandung berbagai macam ilmu baik yang sudah ditemuakn maupun yang belum.
Penafsiran Al-quran yang bercorak ilmi ini selalu mengutip teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan ayat yang sedang ditafsirkan. Al-quran banyak berbicara tentang fenomena alam, yang menjadi kajian ilmu modern. Dengan semangat ini bermunculanlah sebagian mufassir yang menafsirkan ayat-ayat kauniah dengan bertolak belakang dari proposisi pokok-pokok bahasa, dari kapasitas keilmuan yang mereka miliki, dan dari hasil pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena alam.
Dan dalam menjelaskan penafsirannya, para mufassir ini menggunakan pendekatan ilmiah dengan menjelaskan ayat al-quran sesuai dengan teori ilmiah yang merupakan hasil penemuan para ilmuwan melalui penelitian yang mereka lakukan.
Contoh, pada surat al-imran : 27, yang berbunyi sebagai berikut :
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang engkau kehendaki tanpa hisab”.( al - imran:27)
Didalam ayat ini, disebutkan peristiwa tentang terjadinya pergantian antara siang dan malam. Yang mana kita ketahui dari dulu, bahwasanya bumi ini berputar alias berotasi terhadap sumbu rotasinya. Sehingga terjadinya peristiwa siang dan malam. Dengan berdasarkan surat diatas dan sebagian surat yang hampir sama, orang akan termotivasi unutk mempelajari lebih banyak lagi tentang alam semesta ini, kalau didalam hal ini tentunya ilmu luar angkasa.
Surat ini juga menjatuhkan pendapat para ahli jaman dulu yang mengatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya. Ternyata setelah diteliti, bumi bukanlah merupakan pusat tata surya ini. Melainkan Matahari yang merupakan pusat tata surya ini. Dan al-qur’an telah menyatakannya jauh-jauh sebelum adanya teori-teori yang salah tersebut.
Sikap para ulama kontemporer terhadap tafsir ilmi ini terdapat pro dan kontra. Para ulama yang menolaknya beranggapan al-quran bukanlah merupakan buku pengetahuan walaupun didalam al-quran terdapat banyak sekali ilmu pengetahuan. Mereka beranggapan Allah menurunkan Al-qur’an bukan untuk menjelaskan teori-teori ilmiah, terminologi-terminologi disiplin ilmu, dan macam-macam pengetahuan. Mengaitkan al-quran dengan teori-teori ilmiah hanya akan mendorong para pendukungnya untuk menakwilkan Al-quran agar sesuai dengan teori-teori ilmiah. Hal ini tentu saja dapat mereduksi kemu’jizatan al-quran. Seandainya Al-quran dikaitkan dengan temuan-temuan ilmia, dikhawatirkan justru Al-quran-lah yang disesuaikan dengan temuan-temuan ilmiah itu, bukan sebaliknya.
Jadi kita bersikap dalam menghadapi perbedaan tersebut, kita harus berkeyakinan bahwa “al-quran itu merupakan pedoman, petunjuk, pengarah, pemandu bagi kehidupan seluruh umat manusia”, yang didalamnya terdapat berbagai macam isyarat-isyarat atau pesan-pesan moral yang dapat digunakan oleh umat manusia untuk mengembangkan berbagai ilmu modern tersebut (ex: biologi, kimia, matematika,dsb).
Metode tafsir tematik (maudu’i) adalah menafsirkan ayat-ayat al-quran tidak berdasrkan atas urutan ayat dan surat yang terdapat didalam mushaf, tetapi berdasarkan masalah yang dikaji (tema). Mufassir menggunakan metode ini untuk menentukan permasalahan yang akan dicari jawabannya didalam al-quran. Kemudian dia mengumpulakn ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah tersebut yang tersebar dalam berbagai surah.
Menurut Syaikh Syaltut, metode tematik ini merupakan sebuah metode yang dapat menghantarkan manusia pada bermacam-macam petunjuk al-quran. Harus diketahui oleh siapa saja bahwa tema-tema al-quran bukanlah teori semata-mata yang tidak menyentuh persoalan-persoalan manusia.
Dilihat dari namanya, yaitu tematik. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa metode ini cukup erat kaitannya dengan tema. Sehingga dapat kita artikan metode tematik ini adalah suatu metode menafsirkan ayat-ayat al-qur’an dengan berdasarkan tema yang akan dikaji. Misal : tema-nya tentang pendidikan, maka kita akan menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tema pendidikan.
Didalam metode tentu terdapat langkah-langkah atau cara kerja metode tersebut, dapat kita rinci langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Menentukan permasalah topik atau masalah pokok yang akan dikaji.
2. Menentukan kata kunci mengenai permasalahan topik itu dan dan padanannya dalam al-quran.
3. Melacak, menghimpun, mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan, yang berbicara mengenai permasalahan topik tadi dan padanannya dalam al-quran.
4. Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut, sesuai kronologis masa turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya ayat atau azbab al-nuzul (jika memungkinkan).
5. Mengetahui korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut didalam masing-masing suratnya.
6. Menyusun tema bahasan didalam kerangka yang pas, sistematis, sempurna, dan utuh (outline).
7. Menjelaskan maksud ayat-ayat tersebut berdasarkan penjelasan ayat yang lain, perkataan nabi (hadits), sahabat, analisis bahasa serta menggunakan ilmu modern yang berkaitan. Sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan jelas.
8. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik (sesuai tema), mengkompromikan ayat-ayat yang berbeda redaksi. Sehingga semua ayat tersebut bertemu pada suatu muara, tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemahaman makna yang sebenarnya tidak tepat.
Didalam metode tafsir tematik ini dapat dipadukan dengan ilmu pengetahuan (pendekatan secara ilmiah) dalam langkah yang ke-7, yaitu menjelaskan maksud ayat-ayat tersebut dan mempelajari ayat-ayat yang berhubungan dengan tema/pokok permasalahan. Kita dapat menggunakan pendekatan secara ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan permasalahan pokok tersebut, tentunya harus sesuai dengan makna yang terkandung didalam al-qur’an. Kita dapat mengutip para pendapat ahli yang sebenarnya terkadang mereka mengutip juga dari al-quran untuk menjelaskan maksud ayat-ayat tersebut.
Metode tafsir tematik dengan memadukan pendekatan ilmiah ini lebih dekat kearah tafsir corak ilmu pengetahuan. Yang dimana didalam proses penafsirannya banyak mengutip pendapat para ahli untuk semakin menguatkan penjelasan ayat-ayat tersebut.
Bab I
Pendahuluan
A. LATAR BELAKANG
Kita banyak mengenal para filosof-filosof zaman dahulu yang membahas tentang alam semesta. Misal Thales yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari air dan masih banyak lagi pendapat yang lainnya.
Para ilmuwan zaman dahulu beranggapan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu tak terbatas. Sehingga tidak ada momen “penciptaan”, yakni momen ketika alam semesta diciptakan. Gagasan keberadaab abadi ini sesuai dengan pandangan mereka yang bersifat materialisme, yang menyatakan bahwa materi adalah satu-satunya yang ada dijagat raya ini dan jagat raya ada sejak waktu tak terbatas dan akan ada selamanya.
Sedangkan para ilmuwan modern, terdapat tiga jenis jawaban mengenai asal-usul kejadian alam tersebut; realisme, idealisme, dan kritik. Beragam pandangan para ahli tersebut hanya berbicara tentang substansi dan materi alam itu sendiri. Belum sampai pada fungsi alam itu sendiri, bagaiman manusia memanfaatkan alam tersebut, termasuk bagaimana implikasinya terhadap pendidikan.
Untuk itu dalam penjabaran ini akan dikaji mengenai beragam permasalahan tentang alam semesta ini, tentunya berdasarkan al-qur’an. Dan didalamnya akan dikaji kandungan surat-surat yang sekiranya cocok atau sesuai dengan kajian alam semesta.
B. Rumusan permasalahan
• Siapa pencipta alam semesta ini ?
• Kenapa alam semesta ini diciptakan ?
• Bagaimana proses penciptaan alam itu sendiri ?
• Bagaimana implementasipenciptaan alam semesta dalam konteks pendidikan ?
C. Tujuan Pembahasan
• Pencipta alam semesta.
• Fungsi penciptaan alam semesta.
• Proses penciptaan alam semesta.
• Implementasi penciptaan alam semesta dalam konteks pendidikan.
Bab II
Pembahasan
A. Pencipta alam semesta
Tuhan itu memang dekat, namun betapa pula jauhnya . Sudah menjadi sifat manusia bahwa sulit percaya kepada sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Jadi, untuk membuat manusia beriman terhadap Allah dengan cara mengalihkan perhatiannya kepada berbagai fakta yang jelas dan mengubah fakta-fakta ini menjadi hal yang mengingatkan eksistensi Allah. Oleh karena itu Allah menurunkan Al-quran sebagai “sebuah peringatan”, sebagai “sebuah petunjuk”, sebagai “sebuah pengingat”. Yang mana didalamnya terdapat hal-hal penting untuk menunjukkan kepada manusia bahwa segala sesuatu SELAIN dari pada tuhan termasuk keseluruhan alam semesta ini tergantung pada Allah.
Sesuatu sudah barang tentu ada penciptanya, karena jika ada ciptaan sudah pasti tentu ada pencipta. Begitu juga segala yang ada di alam semesta ini, termasuk alam itu sendiri.
Surat al-an’am ayat 101 sebagai berikut :
“dia pencipta langit dan bumi. Dan bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan dia mengetahui segala sesuatu (al-an’am : 101) “
Terdapat beberapa poin yang dapat diambil dari ayat diatas, antara lain :
1. Tuhan maha pencipta dan menciptakan, kata dia pencipta dan dia menciptakan bermakna bahwa Allah-lah yang membuat, meng-create, menjadikan dari tidak ada ke ada. Allah adalah maha pencipta dan maha pemelihara segala sesuatu, termasuk alam semesta dan manusia.
“dialah yang menciptakan segala yang ada dibumi, kemudian ia berkehendak pula menciptakan langit, maka dia jadikan tujuh lapis. Dan dia maha mengetahui segala sesuatu”(al-baqarah: 29).
Allah lah yang menciptakan kita, juga telah menyediakan berbagai fasilitas, yaitu alam beserta isi-isinya.
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa”(as-sajadah: 4).
Disini juga dituliskan dengan jelas bahwa Allah menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Didalam al-quran, membahas mengenai ke-tuhanan. Terutama sifat-sifat Allah, yaitu sebagai pencipta, pemelihara, pemberi petunjuk, keadilan dan belas kasih. Allah maha pencipta tidak mungkin ia hanya menciptakan begitu saja tanpa memelihara dan menjaga ciptaannya.
2. Tuhan mengetahui segala sesuatu mengenai ciptaannya.
Kata “dia menciptakan segala sesuatu” disini sangat jelas dikatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan SEGALA SESUATU yang ada dialam semesta ini. Allah merupakan maha pencipta segala sesuatu, sudah tentu dia maha mengetahuinya. Karena dialah yang menciptakannya. Tentu Allah mengetahui bagaimana seharusnya ciptaannya itu bekerja.
“dan ingatlah ketika tuhanmu berkata kepada par a malaikat: aku akan menciptakan seorang khalifah di bumi”. Para malaikat berkata: “apakah engkau akan menciptakan orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan mengalirkan dara, sementara kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu serta mengagungkan-Mu. Allah berkata: Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” (al-baqarah: 30).
Kata “aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” menegaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dialam semesta ini, karena dialah pencipta alam semesta ini.
B. Fungsi penciptaan alam semesta.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Agar mampu menjadi seorang khalifah dimuka bumi ini, Allah juga menciptakan fasilitas-fasilitas untuk menjadikan manusia sebagai khalifah. Sungguh allah maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya.
Realita menunjukkan bahwa manusia tidak mampu hidup tanpa alam. Manusia makan dan minum dari alam. Ia lahir kebumi ini ke suatu tempat dialam semesta ini, begitu juga ketika manusia meninggal, jasadnya akan dikembalikan ke alam semesta ini. sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa alam lebih tinggi derajatnya dari pada manusia. Karena manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Ini merupakan anggapan yang keliru. Karena sesungguhnya didalam al-qur’an dikatakan bahwa alam ini diciptakan untuk manusia, atau dengan kata lain alam semesta ini merupakan fasilitas yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Bumi merupakan suatu planet yang khusus diciptakan oleh Allah untuk manusia. Air, misalnya adalah senyawa yang sangat sulit ditemukan diplanet lain. Dalam tata surya kita, air berwujud cair hanya ditemukan dibumi. Terlebih lagi, 70% permukaan bumi tertutup oleh air. Jutaan jenis makhluk hidup didalam air. Pembekuan air, kapasitas air untuk menarik dan menyimpan panas, adanya badan air yang besar yang kita kenal dengan lautan, dan bahkan penyaluran panas yang melintasi bumi adalah karakterisitik yang hanya dimiliki oleh bumi.
Pada ayat ke-13 di dalam surah al-jatsiyah, yang berbunyi :
“dan dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya ,(sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” ( al-jatsiyah: 13)
Pada ayat diatas, dikatakan “dan dia menundukkan untukkmu”, disini dituliskan bahwa alam semesta ini diciptakan untuk umat manusia, karena manusia adalah makhluk termulia diantara seluruh makhluk Allah lainnya.Dan segala sesuatu, baik itu benda-benda mati, hewan, tumbuhan dan segala yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Baik itu langit, bumi, maupun isinya.
Seperti yang tertera didalam surah ibrahim ayat ke-32, yang berbunyi sebagai berikut :
“ allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu ; dan dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai .” ( ibrahim: 32)
Begitu juga hewan-hewan yang diciptakan oleh Allah, sesungguhnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia. Sebagaimana yang tertera pada surah an-nahl: 5, yang berbunyi sebagai berikut:
“ dan dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat-manfaat, dan sebahagiannya kamu makan” .
Ayat-ayat diatas menjelaskan tentang apa yang ada dibumi unutk dimanfaatkan oleh manusia. Pemanfaatan ini dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :
1. Dengan cara memanfaatkan materi yang ada di bumi unutk mendukung kelangsungan hidup jasmaniah, seperti penggunaannya sebagai bahan makanan atau perhiasan dalam kehidupan duniawi.
2. Dengan cara merenungkan dan mengambil pelajaran terhadap sesuatu yang tak dapat digapai oleh tangan secara fisik, yang dengan cara demikian akan dapat mengetahui kekuasaan Allah yang menciptakannya, dan dapat dijadikan sebagai santapan rohani agar memperkuat akidah kita sebagai seorang muslim yang percaya akan adanya Allah SWT. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang sia-sia yang diciptakan oleh Allah.
Berdasarkan dua cara tersebut, maka dapat diketahui bahwa pada dasarnya kepada manusia dibolehkan untuk memanfaatkan segala ciptaan Allah yang ada dimuka bumi ini, dan tidak ada hak bagi makhluk untuk mengharamkan terhadap sesuatu yang telah dibolehkan oleh Allah tersebut kecuali dengan izin-Nya. Jadi alam ini diciptakan untuk manusia, dan manusia diperbolehkan memanfaatkan alam semesta ini untuk kehidupannya. Tetapi didalam penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk Allah SWT.
Kemudian juga pada ayat tersebut juga dituliskan “terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”, disini Allah menyuruh umat-Nya untuk berfikir mengenai kekuasaan Allah, mengenai kebesaran Allah, mengenai kehebatan Allah. “BELAJAR DARI ALAM”, itulah istilah yang tepat mengenai maksud ayat diatas. “BELAJAR DARI ALAM” merupakan istilah yang sering kita dengar dalam kehidupan kita. Apa yang dimaksud dengan “BELAJAR DARI ALAM” ini ? belajar dari alam disini berarti kita mempelajari gejala-gejala alam, kita mempelajari bagaimana proses alam itu bekerja, bagaimana keteraturan alam tersebut. Karena hal-hal tersebut berguna untuk kepentingan hidup manusia.
Dari fungsi ini kita mampu menggunakan alam semesta ini dalam dunia pendidikan. Sudah tentu alam semesta ini bisa dijadikan materi pelajaran agar semakin memperkuat tauhid kita. Selain itu juga didalam proses pendidikan kita juga mampu menggunakan alam semesta ini sebagai lingkungan pendidikan, sebagai media pendidikan.
Sungguh allah tidak menciptakan segalanya dengan sia-sia.
C. Proses penciptaan alam semesta
Berbicara mengenai proses penciptaan alam, terdapat beragam pendapat para ahli mengenainya. Mulai dari pendapat ahli yang beragama sampai yang atheis. Mereka semua cenderung berselisih dalam merumuskan hal tersebut.
Bagi para ilmuwan yang mengukur rancangan dan keteraturan alam semesta dengan menggunakan akal dan kesadaran mereka, tidaklah susah sama sekali untuk menjelaskan kesempurnaan ini. Ini karena Allah penguasa segala jagat raya, yang menciptakan segala jagat raya ini. Sebagaimana didalam surah al-imran: 190, :
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” ( al-imran: 190)
Akan tetapi bagi para ilmuwan yang tidak mempercayai Allah, akan mengalami kesulitan besar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai alam semesta ini. Mereka bahkan berani menggunakan dalil palsu atau pemikiran-pemikiran yang cenderung dipaksa-paksakan.
Jika berbicara mengenai proses penciptaan alam semesta, kita akan banyak bercerita tentang penciptaan langit. Atau biasanya yang berhubungan dengan astronomi. Tahun 1920-an adalah tahun yang penting bagi perkembangan astrinomi modern. Karena pada tahun 1922, ahli fisika rusia, Alexandria Friedman menghasilkan perhitungan yang menunjukkan bahwa struktur alam semesta tidaklah statis, dan bahwa impuls kecil sekalipun mampu menyebabkan struktur keseluruhan mengembang atau mengerut.
Pada tahun 1929, astronomer amerika, Edwin Hubble membuat penemuan penting dalam sejarah astronomi. Ketika dia mengamati bintang-bintang melalui teleskop raksasanya, dia menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spektrumnya, dan pergeseran itu berkaitan dengan jarak bintang-bintang dari bumi.
Didalam fisika, spektrum berkas cahaya yang mendekati titik observasi cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas cahaya yang menjauhi titik observasi cenderung ke arah merah. Pengamatan Hubble ini menyatkan bahwa benda-benda luar angkasa tersebut menjauh dari kita. Kemudian Hubble juga menemukan bahwa bintang-bintang tersebut selain menjauh dari bumi, mereka juga saling menjauh satu sama lain. Ini berarti bahwa alam semesta dengan kinstan “mengembang”.
Jika alam semesta ini mengembang, mari kita mundur ke masa lalu. Alam semesta ini berkembang, berarti alam semesta ini dahulu merupakan sesuatu yang kecil yang selalu berkembang hingga menjadi seperti saat ini. Jadi pada suatu saat dulu, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai “volume nol”.
Dalam salah satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori big bang), disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari sebuah ledakan kosmis sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu yang mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam sebuah titik tadi. Didalam surah al-anbiya: 30 disebutkan :
“ dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman”. (al-anbiya: 30)
Kata “ratq” yang disini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat yang berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui persitiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”.
Begitu juga pada surah fussilat ayat 11 disebutkan :
“ kemudian dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan bumi: “datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan sesuka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “kami datang dengan suka hati”.
Kata asap diatas diartikan oleh para mufassir adalah merupakan kumpulan dari gas-gas dan partikel-partikel halus, baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.
Dari ayat-ayat diatas, dapat diketahui bahwa terciptanya alam raya ini melalui proses pemisahan massa yang tadinya bersatu. Kata “langit”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut menggambarkan luar angkasa dan alam semesta. Disini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, didalam Al-quran yang diturunkan 14 abad silam dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang didapatkan dari penelitian oleh Edwin Hubble pada abad ke-20.
Dari uraian singkat diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebelum para ahli mengemukakan tentang teori big bang yang dimulai abad 20-an, al-quran telah jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk.
D. Implementasi penciptaan alam semesta dalam konteks pendidikan
Seperti yang telah dibahas diatas, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai fasilitas bagi manusia. Atau dapat dikatakan alam semesta ini diciptakan hanya untuk umat manusia. Kenapa begitu ? karena setelah dikaji, ternyata banyak keistimewaan yang terdapat di alam semesta ini, yang diciptakan hanya untuk membantu kehidupan manusia.
Di alam semesta ini banyak sekali peristiwa alam yang dapat dipelajari oleh manusia. Periistiwa tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi manusia agar dapat menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.
Allah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Ini berarti semua hal yang terdapat di alam semesta ini merupakan ciptaan Allah, yang pastinya Allah maha mengetahui segala yang diciptakannya. Pendidikan merupakan sesuatu yang terdapat di alam semesta ini, jadi pendidikan merupakan salah satu ciptaan Allah. Karena pendidikan diciptakan oleh Allah SWT maka dia tahu bagaimana pendidikan yang tepat itu, bagaimana pendidikan yang bagus itu, bagaimana pendidikan yang sesuai itu. Bagaimana kita mengetahui pendidikan yang bagus menurut Allah ? kita kembali kepada Al-quran, karena didalam al-quran lah terdapat semua petunjuk hidup hidup. Termasuk bagaimana proses pendidikan yang bagus itu. Jadi dengan kata lain, pendidikan yang bagus itu adalah pendidikan yang berdasarkan pada al-quran.
Selain itu, alam semesta dapat dijadikan sebagai materi dalam pendidikan. Maksudnya alam semesta ini dapat dijadikan materi/bahan ajar dalam kegiatan pendidikan. Karena selain menambah khazanah pengetahuan kita, mempelajari alam semesta juga dapat juga dapat menambah keyakinan, keimanan, dan menguatkan tauhid kita sebagai umat muslim. Mulai dari siapa pencipta alam semesta itu, tujuan diciptakannya alam semesta, bagaimana proses penciptaannya, fungsi alam semesta itu sendiri, dan sebagainya. Semua hal itu sangat penting dipelajari dan dijadikan materi pelajaran dalam pendidikan.
Kenapa kejadian alam semesta ini perlu dimasukkan kedalam materi pendidikan ? karena sesuai dengan firman Allah dalam surah al-jatsiyat ayat ke-13:
“dan dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya ,(sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” ( al-jatsiyah: 13)
Di dalam firman Allah diatas, dikatakan bahwa “sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”, disini menyuruh manusia untuk mempelajari tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada alam semesta. Karena didalam kejadian tersebut terdapat kekuasaan Allah SWT, agar kita termasuk orang-orang yang selalu berfikir.
Jadi alam semesta memegang peran cukup penting didalam kehidupan manusia, karena alam memang diciptakan untuk mempermudah alias membantu kehidupan manusia. Termasuk didalam bidang pendidikan.
Bab III
Penutup
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah dimuka bumi ini. Oleh karena itu manusia diberikan fasilitas-fasilitas oleh Allah berupa alam semesta. Yang mana didalamnya terdapat kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau berfikir.
Didalam proses penciptaan langit dan bumi, terdapat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itulah kenapa proses terciptanya alam semesta dimasukkan kedalam materi pendidikan. Karena selain menambah khazanah ilmu pengetahuan kita, dengan mempelajari alam semesta dengan tidak langsung kita juga telah mempelajari kebesaran Allah SWT.
Pendidikan merupakan salah satu yang diciptakan oleh Allah SWT. Karena Allah yang menciptakannya, sudah tentu dia yang mengetahui bagaimana seharusnya pendidikan itu berjalan. Agar kita mengetahui bagaiamana pendidikan yang semestinya itu, kita harus berpedoman pada kitab suci umat Islam yaitu : al-qur’an. Karena al-quran lah petunjuk langsung dari Allah mengenai bagaimana seharusnya kehidupan itu berjalan.
Didalam al-quran juga terdapat penjelasan bagaimana penciptaan alam semesta, dan penjelasan didalam al-quran ini juga telah dibuktikan oleh para ilmuwan-ilmuwan, baik zaman dahulu maupun zaman modern. Tidak sedikit juga ayat-ayat al-quran yang menjatuhkan pendapat para ahli yang salah.
Memang al-quran bukan lah merupakan buku pengetahuan, tetapi didalam al-quran terdapat beragam ilmu pengetahuan termasuk bagaimana pencipta alam semesta, proses penciptaannya, dan sebagainya.
Daftar Pustaka
Abuddinnata, Tafsir ayat-ayat pendidikan, Jakarta: Grafindo Persada, 2002
Harun yahya, kesempurnaan ciptaan atom, Bandung: Dzikra, 2004
Harun yahya, menyingkap rahasia alam semesta, Bandung: Dzikra, 2002
Harun yahya, penciptaan alam semesta, Bandung: Dzikra, 2004
Rahman, Fazlur, tema pokok al-quran, Bandung: Pustaka, 1996
www.al-habib.info.com
www.blog.its.ac.id
www.keajaibanalquran.com
www.agusset.blogspot.com
www.al-qurandanterjemahannya.com
Sabtu, 23 April 2011
your broken hearted loser
I know, I choose to end what we had
but not being with you
made me realize how much
Incomplete. . . . .
I'm without you. . . . !
I'm sorry I caused you pain
but right now, please know
that i'm hurting too. . . .
Coz, my heart misses you so much
It aches. . . . .
I regret not loving you enough
I regret losing you
so, what if I say
I want you back
will you take me in ? ? ?
Punish me, smother me . . .
I will take it all . . . ! !
Just love me,
once again . . . . . .
Senin, 18 April 2011
Jumat, 08 April 2011
SAHABAAAT . . . . . . ? ? ? ?
sahabat
begitu klise terdengar ditelingaku
begitu aneh terucap dari mulutku
begitu muak jika q pikirkan
banyak orang berkata FRIENDSHIP never die, FRIENDSHIP is number one, and manymore likes bullshit.
Tp apa mereka twu, apa mereka paham, apa mereka mengerti,
apa itu persahabatan ?
apa itu pertemanan ?
Ya, , mereka twu, mereka twu nya hanya mengucapakan kata SAHABAT dgn indahnya tanpa tau maknanya
Ya, , mereka paham, mereka paham bagaimana merangkai kata-kata SAHABAT menjadi kalimat yang bgitu indah didengar. TAPI, hanya indah didengar.
Ya, , mereka mengerti, mereka mengerti bagaimana penting x membutuhkan seorang sahabat KETIKA mereka susah, mereka juga mengerti dengan sangat baik bahwa sahabat itu HANYA mengurangi kebahagian mereka di kala senang
begitu indahnya persahabatan itu,
so in my mind, in my head, in my brain, and my heart,
FRIENDSHID aren't more than A SHIT.
